Cara Membuahkan Durian
Pembuahan Diluar Musim vs. Memperpanjang Masa Panen
Oleh: Panca Jarot Santoso & Agus Priyono
Durian merupakan tanaman tahunan yang umumnya berbuah satu kali dalam setahun. Masalah yang hampir selalu muncul saat panen raya di setiap sentra durian adalah harga jatuh karena jumlah buah yang banyak di waktu yang relatif singkat. Jika ada teknologi yang paling ditunggu-tunggu oleh petani durian adalah teknologi membuahkan durian diluar musim.
Buah durian memiliki daya tarik yang sangat kuat dibandingkan buah tropis lainnya, terutama karena memiliki cita rasa yang istimewa. Para penggemarnya sanggup membayar mahal untuk mendapatkan buah durian yang masih segar dan prima. Para pemburu rasa durian sanggup mengeluarkan biaya tidak sedikit dan mengorbankan waktu untuk berburu durian sampai ditempat asal pohon yang berbuah, demi mendapatkan buah dengan rasa yang disukai. Kondisi ini memberikan nilai tambah keuntungan bagi pekebun durian yang sanggup menyediakan buah durian sepanjang waktu. Sayangnya, tanaman durian merupakan tanaman tahunan yang berbuah setahun sekali sesuai ritme pergantian iklim kering saat kemarau dan basah saat hujan. Akibatnya, saat panen raya di satu sentra durian yang hanya berlangsung 3-4 minggu, harga durian menjadi jatuh (Alexander 2020), bahkan seringkali buah tidak laku dan terpaksa petani membiarkan busuk di kebun.
Sebaliknya, pekebun yang dapat panen buah diluar musim dapat memperoleh hasil yang tinggi karena harga buah yang melambung tinggi. Informasi dari pedagang durian Kromo Banyumas, atau yang dipasar dikenal sebagai durian Bawor, menyebutkan bahwa saat musim besar harga jual buah per kilogram Rp75.000,00 menjadi Rp140.000,00-150.000,00 di musim sela atau saat off season. Di tingkat petani pun harga meningkat dari Rp50.000,00 menjadi Rp100.000,00. Di Thailand, durian Monthong kelas premium di awal musim dihargai 80-100 bhat (setara 31.000-35.000) per kilogram di tingkat petani, sedangkan pada puncak panen hanya laku 50-60 bhat per kilogram (Santoso 2015). Pada saat panen raya kita bisa mendapatkan buah durian dengan harga 25-30 bath di lapak pasar tradisional.
Nilai ekonomi yang menggiurkan ini, telah mendorong banyak pekebun untuk membuahkan durian diluar musim. Berbagai cara pembuahan telah dilakukan oleh penggiat maupun pekebun durian. Di dalam artikel ini disajikan pijakan teoritis dan beberapa teknologi untuk membuahkan durian diluar ritme musim normal dan beberapa efek negatif yang perlu disikapi dengan bijak oleh pekebun durian.
Pembuahan Diluar Musim: Panen Awal vs. Panen Akhir
Istilah pembuahan diluar musim atau off-season disematkan pada setiap upaya membuahkan durian diluar waktu normal yang terjadi secara alami sehingga umumnya kita beranggapan kalau teknologi ini dapat membuahkan tanaman pada saat berlawanan dengan musim yang rutin terjadi. Sesungguhnya tidaklah murni demikian, karena pembuahan yang terjadi benar-benar diluar musim akan menghadapi hambatan besar, yaitu iklim. Untuk tanaman skala luas akan sangat berat dan mahal biayanya. Lebih tepatnya yang terjadi adalah panen lebih awal (early-season) atau lebih lambat (late-season) dari seharusnya sehingga durasi panen buah durian jadi lebih panjang daripada kondisi normal. Secara umum, teknologi off-season lebih banyak diterapkan untuk pembuahan lebih awal (Santoso 2015). Dengan melakukan upaya pemacuan pembungaan secara fisiologis maupun kimiawi menyebabkan tanaman berbunga mendahului dari waktu yang seharusnya.
Dasar dari pelaksanaan pembuahan diluar musim adalah meniru kondisi alamiah yaitu adanya tanggap tanaman terhadap kondisi kekurangan air. Ketika di dalam tanah terjadi kekurangan air, maka pengangkutan nitrogen yang larut dalam air oleh akar menjadi berkurang sehingga rasio karbon terhadap nitrogen meningkat. Meningkatnya rasio C/N akan menurunkan sintesis hormon giberelin sehingga menurunkan pertumbuhan vegetatif. Kondisi ini mendorong proses metabolisme didalam tanaman mengarah pada pembentukan bunga (Fauzi et al. 2017; Izzah 2017). Berdasarkan mekanisme ini, ada beberapa teknologi pembuahan diluar musim yang dapat dilakukan, yaitu:
a.Stressing air
Sudah menjadi karakteristik durian dan tanaman buah pohon seperti rambutan, mangga, dan manggis, untuk inisiasi pembungaan diperlukan periode kering antara 2-8 minggu bergantung pada karakter genetik tanaman. Ada tanaman yang responsif sehinga dengan masa kering 2 minggu saja sudah cukup menginisiasi bunga, sebaliknya ada yang bandel sehingga membutuhkan 8 minggu atau lebih untuk tanaman mampu menginisasi munculnya bunga. Tanaman yang responsif ditandai dengan seringnya muncul bunga bahkan tumpang tindih dengan masa pembesaran buah. Secara alamiah, mekanisme stressing ini dapat terjadi ketika kemarau. Selama periode waktu tertentu tidak ada hujan sehingga pasokan air tanah jadi berkurang dan tanaman mengalami stress. Setelah ada hujan kembali maka tanaman akan muncul bunga.
Terkait ritme hujan, wilayah Indonesia secara umum terbagi menjadi dua tipe, yaitu equatorial dan monsoonal (Kadarsah 2007). Equatorial yaitu kondisi iklim hujan di sekitar garis katulistiwa, sedangkan monsoonal yaitu di utara dan selatan katulistiwa. Di wilayah equatorial pola ikim hujan dan kemarau ada dua puncak yaitu hujan di bulan Maret-Mei dan Agustus-Desember serta kemarau di januari-Februari dan Juni-Juli, sedangkan monsoonal pola iklim hujan dan kemarau hanya satu puncak, yaitu hujan di bulan Oktober-Maret dan kemarau di bulan April-September. Dari dua pola iklim ini secara alamiah pohon durian di wilayah equatorial berbuah 2x setahun dan di tipe iklim monssonal terjadi 1x dalam setahun.
Aplikasi pembuahan diluar musim berdasarkan stressing air adalah dengan melakukan upaya meloloskan air hujan segera keluar area kebun dengan membuat parit-parit yang cukup dalam, memberikan pasir pada area perakaran dan menyungkup pohon atau menutup area perakaran dengan plastik. Dengan cara ini air hujan tidak sempat membasahi area perakaran, sehingga walaupun ada hujan tanah tetap kering.
b. Penggunaan zat pengatur tumbuh
Cara lain untuk mempengaruhi metabolisme dalam tanaman agar terpacu pada pertumbuhan generatif adalah dengan menggunakan hormon yang memacu pembungaan, misalnya menggunakan paklobutrazol. Paklobutrazol dengan rumus kimia (2RS,3RS)-1-(4-chlorophenyl)-4,4-dimethyl-2-(1H-1,2.4 triazol-1-yl) pentana-3-ol atau dengan rumus empiris C15H20CIN3O merupakan zat penghambat tumbuh (growth retardant) yang berperan dalam menghambat biosintesis giberelin sehingga menurunkan pertumbuhan vegetatif tanaman dan sebaliknya merangsang terjadinya pembungaan.
Di Vietnam praktek off-season dilakukan berdasarkan prinsip stressing air dengan menutup seluruh permukaan tanah menggunakan plastik. Setelah beberapa waktu tanaman mengalami stress dan selanjutnya berbunga. Pelaksanaan stressing dilakukan di akhir musim hujan, pada saat intensitas hujan sudah mulai berkurang. Kaidah ini sangat rentan kegagalan akibat musim hujan yang berkepanjangan. Untuk meningkatkan keberhasilan off-season, biasa juga dilakukan kombinasi stressing dengan perlakuan kimiawi menggunakan paklobutrazol.
Memperpanjang Masa Panen
Disamping upaya merangsang tanaman agar berbunga-berbuah lebih cepat, ada mekanisme alamiah yang dapat digunakan untuk mengatur agar rentang panen buah terjadi lebih lama. Dengan cara ini panen tidak terjadi penumpukan produksi di satu waktu yang pendek dan mudah mengatur pemasarannya, yaitu:
a. Menanam berbagai tipe rentang pemasakan buah dalam satu lokasi
Buah durian dalam satu pohon akan masak dan jatuh beriringan selama 3-4 minggu. Namun berbeda jenis atau varietas durian memiliki rentang waktu dari masa berbunga sampai masak yang berbeda juga, ada yang cepat (90-105 hari), menengah (105-120 hari), lambat (120-135 hari), bahkan ada yang sangat lambat (> 135 hari). Maka sejak merancang kebun sudah ditetapkan beberapa varietas yang memiliki tipe pemasakan yang berbeda. Bila keempat tipe pemasakan buah ini ditanam dalam satu kebun, maka kita akan panen durian lebih panjang daripada yang hanya menanam satu varietas; dari kondisi normal 3-4 minggu bisa diperpanjang sampai 7-8 minggu. Durian-durian berukuran kecil umumnya memiliki waktu pemasakan yang pendek, sedangkan durian-durian yang berukuran besar waktu pemasakannya lebih lama.
b. Menanam durian di lokasi-lokasi zona agroekosistem yang berbeda
Indonesia yang menempati wilayah yang membentang sepanjang 5000 km dari 95° sampai 141° BT dan memiliki zona agrosistem yang beragam menyebabkan masa panen yang panjang sekitar 8-9 bulan setiap tahunnya dari bulan Juli sampai maret. Bahkan dengan beberapa lokasi berpotensi untuk menghasilkan buah pada 3-4 bulan sisanya dapat ditemui durian sepan jang tahun. Daerah-daerah kepulauan umumnya dapat menghasilkan buah di musim-musim diluar puncak panen secara nasional karena perbedaan tipe iklim, seperti di Sebatik Kab. Nunukan, Kepulauan Riau, dan beberapa daerah seperti Flores, dan Papua. Menanam durian di lokasi yang berbeda akan memberikan masa penen yang berbeda.
Di Thailand, produksi durian terbagi ke dalam tiga zona yang menyebabkan masa panen terjadi sepanjang 5-6 bulan. Bulan April-Juni terjadi panen di wilayah timur, wilayah utara panen bulan Juni-Juli, dan wilayah selatan panen bulan Juli sampai September.
Pembuahan Menggunakan ZPT Ala Petani Thailand
Thailand sebagai negara yang terdahulu dalam agribisnis durian telah memunculkan banyak pekebun yang berpengalaman dalam membuahkan durian. Aplikasi teknologi dari salah satu pekebun yang telah berhasil melaksanakan pembuahan durian diluar musim (Santoso 2015) adalah sbb.:
- Tahap persiapan. Sebelum pelaksanaan pembuahan off-season diupayakan tanaman dalam kondisi prima dengan mencukupi hara. Oleh karena itu, hal yang paling penting adalah bagaimana memberi pupuk secara berimbang sesuai dengan fase perkembangan tanaman. Tahap persiapan dimulai dari saat setelah panen musim sebelumnya dengan melakukan pemangkasan ranting dan tunas-tunas air. Kemudian dilakukan pemupukan menggunakan NPK 15:15:15 atau 16:16:16 sebanyak 2-4 kg per pohon berumur 10 tahun. Alternatif lainnya, yaitu mengkombinasikan NPK 12:6:6 dan 19:9:19 masing-masing setengah bagian dan diberikan sebanyak 4 kg per pohon. Aplikasi pupuk ini dilaksanakan pada bulan Juni atau Juli.
- Tahap aplikasi ZPT, dilaksanakan pada bulan Agustus menggunakan paklobutrazol dosis 25% v/v dengan cara disemprotkan merata pada seluruh permukaan daun. Pelaksanaan penyemprotan dilaksanakan saat hari tidak ada hujan. Bila setelah penyemprotan ada hujan maka dilakukan penyemprotan ulang dengan setengah dosis. Aplikasi paklobutrazol pada bulan Agustus dengan pertimbangan 4 bulan setelahnya, yaitu bulan Desember akan terjadi pembungan dan pada pertengahan atau akhir bulan Maret mulai panen.
- Tahap ketiga, yaitu pemupukan untuk mempersiapkan nutrisi pembungaan, penjarangan dan pengendalian OPT. Pemupukan menggunakan NPK 8:8:24 sebanyak 2-4 kg yang dilaksanakan pada bulan Oktober. Dengan pemupukan ini diharapkan bunga mulai muncul padaDesember. Setelah bunga muncul banyak, dilakukan penjarangan sekitar 20-50% jumlah bunga, setelah itu dilakukan penyemprotan fungisida. Pada saat bunga mekar dilakukan penyemprotan akarisida untuk menghindari serangan kutu pada bakal buah.Tahap keempat adalah pemupukan untuk pengisian buah dan pengairan. Satu bulan setelah bunga mekar dilakukan pemupukan menggunakan NPK 12:12:17 atau 13:13:21 sebanyak 4-5 kg per pohon. Alternatif pemupukan menggunakan NPKZn 7:13:34:12.5 Pada saat pembentukan buah ini suplai air harus diperhatikan. Tanaman berumur 10 tahun dengan diameter tajuk sekitar 8-9 meter membutuhkan air sebanyak lebih kurang 200 liter per pohon per hari. Bila buah sudah sebesar bola takraw pengairan mulai dikurangi sampai saat panen buah.
Komentar
Posting Komentar